Feed on
Posts
comments

Ingin terbang….

Alhamdulillah…
Gile, Bulan Ramadhan lg… puasa lg… sadar lg dr dosa2 selama ini….
Mom, Dad, Sis(s), Bro(s), Hub(s??)… miss u all…
Kangen bgt sama suasana bulan puasa di kampung halaman.
Kangen bgt sama makanan-makanan khas bulan puasa di kampung halaman.
Kangen bgt puasa sama2 keluarga.
Kangen… kangen… kangen…
Well this me. Here where I’m living now.
25 tahun sejak pertama kali keliar dr rahim ibu, ga kebayang akan jd IRA yg sekarang.
Seneng rasanya bisa bkn bokap-nyokap bangga akan kesuskesan gw sekarang.
Kesuksesan yg harus dnayar mahal dengan hidup merantau di negeri org, walaupun hati ini selalu senang di saat ingin menangis, memohon untuk bisa sesaat saja terbang ke kampung halaman dan melihat senyum ibu.
WAIT! Hold taht tears, Mom! Coz I’m not being here to see u crying. In contrary, I want u to be happy. So just smile, that’s all I ever needed.

Who are u meant to be? did u know?

Umur 24 thn (bentar lg 25 thn), udah lulus kuliah S1, udh kerja di luar negeri (walaupun cuma di Singapore), kantor enak, kerjaan asik (sesuai ama minat gw bgt), gaji bagus, pacar ada. Sounds great, but believe me, I’m suffer. Hidup jauh dr nyokap-bokap-kakak2-adik2. Kerja keras terus tiap hari (walaupun sekali lg, sesuai ama minat gw bgt).

Gw suka bgt slogan komik2 Marvel : "From Great Powers, comes great responsibility" just like Uncle Ben said to Peter Parker.

Mungkin itulah siklus hidup yg sekarang sedang (dengan terpaksa, walaupun ikhlas) harus gw jalanin.

Gw gak tega liat bokap-nyokap terus2an dikejar2 BILLS (bayar ini, bayar itu) Apalagi kalo sampe harus ngutang sana ngutang sini). Sumpah gw gak sampe hati. Semenjak kecil, diam2 gw berdoa, kalo ada yg bs gw lakukan "just to make them happy", I swear, gw bersumpah, jalan itu akan gw lalui, meski harus sampe berdarah2 buat diri gw sendiri. Lalu peristiwa demi peristiwa pun terjadi. Kalo kata Bruce (bos gw), "…every moments influence our life, our personality, our mood. Then how much moments we have to consider?? 3000 moments in just a flick of finger…"

Yup! I’m totally agree. Setelah peristiwa demi peristiwa terjadi, gw merasa jauh lebih dewasa skrng. Kalau aat ini memang harus gw-lah yg menanggung semua beban keuangan keluarga gw, so be it!! I don’t mind. Altough, once again, believe me, I have to suffer. As long as this will make them happy.

God, I really miss my mom-dad…

How sad… we live in another dimension, time, space, limits.

I wonder when will I recognize u again in the future, u with ur big passion to cross the universe, I bet u’ve changed by that time.

We used to walk along this street side by side, with ur toes sometimes hit mine, but we laught a lot, very much. That’s what I like about us. We always have ways to find our fun together. As the days gone by, we already passed those streets, those seashores, those walkways, until we felt like this city is too small for us, that we know every inches of her…

But u know what?? this city is not actually that small. With u not around, this city is no longer small.. In contrary, she’s too big for me to pass her all by my self.. So I tell u know, if u want to find another smaller city for urself(ishness), u actually can find it everywhere, every place where there’s no me there… So now, u can go whereever u want to go… Coz it is no longer small city u’ll find.

Lepas semua masalah, saat ini aku bagaikan musafir yang sedang terpuruk di tengah padang pasir yang tandus. Hanya desiran angin gurun beserta debu-debu yang bersedia menemaniku selalu, dalam suka, dalam duka dan luka. Sepuluh langkahku laksana seribu langkah. Dahaga, hanya itu yang dapat kurasakan. Musnah semua kepercayaanku akan penglihatanku sendiri, yang mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan mana nyata dan mana asa. Aku buta. Desiran angin memekakkan telinga, membuatku tak mampu menangkap ucapanku sendiri. Aku tuli. Ucapan-ucapanku telah memotong-motong lidahku sendiri, membuatku takut untuk berucap. Aku bisu. Terkikis sudah keinginanku untuk dapat merasakan, manis, asin, asam, panas dan dingin, hanya getir yang kurasa. Aku telah terluka.
Ia telah pergi bersama angin gurun. Ia yang berjanji untuk melawan gurun ini bersama-sama telah berkhianat dengan menjadi sekutu abadi angin gurun. Seharusnya ia tahu, angin gurun akan selalu menjadi angin gurun. Kemanapun ia bertiup tunduknya akan selalu pada gurun. Seharusnya ia tahu, gurun tetaplah gurun. Walaupun seribu kali hujan turun, gurun tetaplah gurun. Seharusnya ia tahu, akulah yang akan tetap menemaninya walaupun suatu saat nanti angin dan gurun mengkhianatinya.
Ribuan angin gurun kulawan, ia tetap tak kutemukan. Aku kehilangan arah karenanya. Aku mulai lelah berusaha mencari ia yang terus mengikuti angin gurun. Aku mulai rapuh, menyerpih dan membinasa. Aku terbenam dalam pasir-pasirnya…dalam…
Lalu tiba-tiba desau angin mulai terdengar jelas. Bukitan gurun mulai nyata. Suaraku berangsur-angsur melantang. Kau telah menemukanku, membersihkan lukaku, dan berjanji tak kan pergi bersama angin gurun. Lekatkan aku dijiwamu selalu.

« Newer Posts